Saya, yang notabene sudah lebih dari 11 tahun bekerja tidak pernah memiliki pengalaman mengelola SDM. Paling banter mengelola asisten di rumah. Track recodnya adalah paling lama 2 tahun, paling sebentar 2 minggu.

Jika di kantor, secara organisasi beberapa orang di bawah saya, tetapi prakteknya mereka sejajar dengan saya, jadi ya jarang tuh nyuruh-nyuruh :D lebih ke minta tolong. Benar-benar tidak berbakat jadi boss!!.

Sejak mengembangkan tokofya. Serta merta saya memiliki 2 pegawai, cuma 2 biji ups 2 orang, tapi saya dag dig dug der. Ternyata memiliki pegawai itu berat jendral!

Masalah-masalah yang membuat saya pening tujuh keliling adalah :

Gajian
Saya terbiasa menerima gaji, setiap tanggal 25 check saldo selanjutnya hari pun akan benjadi berbunga, makan siang di mall, window shopping di itc ambassador.

Sekarang saya harus menggaji orang dari perputaran usaha. Khan usahanya lancar, ngapain panik?. Itu kalau lancar kalau enggak? bisa-bisa dapur saya tutup warung. Khan ada juragan? hiks malang nian juragan, sudah seperti BI dimintai dana talangan terus.

Koordinasi
Setiap orang punya level pemahaman berbeda. Saya mahfum setelah beberapa project berakhir mengenaskan. Asumsi saya jika bisa menjahit berarti tahu dong seluk beluk perjahitan. Ternyata oh ternyata tidak.

Setiap instruksi harus diberikan sejelas-jelasnya. Belum lagi jika ada ketimpangan usia, latar belakang dan motif bekerja. Ketika saya curhat ke juragan, Saran beliau adakan weekly meeting. Hiks, cuma 2 orang pakai weekly meeting, kesannya heboh gitu. Tips ini belum saya jalankan sampai hari ini.

Sok Pintar atau memang pintar?
Seringkali pegawai saya memiliki cara sendiri mengerjakan jahitan. Masalahnya kadang kala tidak sesuai dengan standard yang saya inginkan. Jatuhnya saya menjudge dia sok pintar, dia merasa saya bawel. Keesokan harinya saya jerawatan. duhh..

Iri dengki dan cari perhatian
Ini yang paling keren, bekerja dengan ibu-ibu tidak akan seru tanpa bumbu-bumbu gosip. Yang paling parah adalah jika mereka bersaing untuk mendapatkan perhatian kita. Atau mulai saling menjelekkan, kita mati gaya akhirnya suasana kerja jadi tidak mengenakkan.

Toleransi
Sejak awal berdiri, saya sadar akan memperkerjakan ibu rumah tangga, artinya mereka akan bekerja bersama anak-anak mereka. Saya senang karena memang akhir perjalanan saya akan kesana.

Tetapi memanage bekerja dan membawa anak itu tidak mudah. Kasus ini benar-benar belum ditemukan solusi yang mujarab, terus terang sebagai ibu, saya tidak bisa serta merta menginstruksikan memisahkan urusan rumah tangga dan kerja. Jika hal ini terjadi, saya yang akan panik mulai terbuat dari apa hati saya. Tetapi apa solusinya??? sedangkan banyak project sudah mendekati deadline.

Ufff, ketika napas saya sudah mulai sesak dan semangat mengendur ditambah jerawat mulai bermunculan. Saya harus segera menyingkir untuk mengambil nafas dan rehat sejenak. Untungnya saya memiliki partner (@wuryani) yang bisa menetralisir keadaan, berbagi beban dan kepanikan he..he…

Jalan kami memang benar-benar masih panjang, Jurang pertama sedang kami lalui, Semoga oooh semoga kami bisa mendakinya.

juragan : my beloved husband (@herutri)

Berlabel:
 
Tentang Penulis

Farida Purnaminingrum

Seorang ibu dengan 2 krucil yang super heboh, nyambi sebagai web developer, sambil curi-curi waktu menjahit.

4 Responses to Penjahitku, pengalaman pertama mempunyai pegawai

  1. novikris mengatakan:

    Nice share mbak..gak bisa bantu..tp semoga jd pengalaman yg memperkaya jiwa:-)

  2. dianeka mengatakan:

    I always like the way you share to us … jadi inget masa2 dahulu ….
    cerita2 sampai malam.
    Keep writing ya mbak. Sangat mencerahkan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>