Raka..!!! kasih mainan ke ade!!. Anin!!! jangan di pukul mas-nya!. “yang rukun donk nak, sama saudara!!”. Itulah teriakan saya setiap duo bocah saya mulai berseteru. Beda tipis khan sama wasit?, yang kurang cuma peluit.
Menengahi mereka berseteru benar-benar membuat urat dahi berkerut dan otot leher menebal. Ingin tahu intensitas perseteruan mereka? paling cepat 5 menit paling lama 1/2 hari. Kondisinya adalah mesra-berantem-mesra-berantem-berantem. Looping sampai salah satu kena time out.
Saya pernah curhat mengenai kecemburuan Raka kepada Anin kepada dokter kandungan saat kontrol Anin pertama kali. Beliau mengumpamakan, saat orang tua membawa bayi baru ke rumah. Perasaan sang kakak seperti istri dikenalkan pada madunya (istri muda). WHATSSS!! buju buneng nih spog perumpamaanya syerem bener, tapi kalau memang itu gambarannya pedih oh pedih.
Sejak saya mengandung Anin, kami berdua berusaha mengkondisikan raka untuk menerima pendatang baru. Dan ternyata jalan terjal masih harus dilalui.
Sekarang pertanyaan terbesarnya adalah seberapa sering saya kehilangan kesabaran? tenang saudara-saudara, saya masih level beginner, pengen naik ke intermediate dalam managemen perseteruan ini. Sekarang sedang merangkum. Biar afdol saya tulis di sini. Siapa tahu yang level advance mau kasih contekan. Harapannya sih bisa naik ke intermediate.
Mengenali penyebab
Ada asap pasti ada api. Masalahnya agak susah menemukan titik awal penyebab perseteruan. Jika ingin mudah adalah menyelesaikan yang tampak dipermukaan. Tetapi kalau saya lihat lebih dalam pakai zoom. Untuk kasus yang sama, kadang mereka bertengkar kadang tidak. Jadi sebelum muncul asap, cara jitu adalah cepat-cepat memadamkan api. Cuma simbok-nya ini bingung nyari penyebab sebenarnya.
Beda karakter dan beda umur
Yup!!. Meskipun mereka sama-sama brojol dari perut saya. Karakter Raka sama Anin beda 180 derajat. Ditambah lagi beda masa pertumbuhan. Anin yang belum paham benar mengenai konsep hak milik di tambah sifat “halus” perempuan, bertemu dengan Raka yang mulai menikmati mainannya dan lebih mengenal bahasa fisik. Hasilnya “boom!!”. bom TNT meledak di PDR 2 no 3.
Peniru
Ini baru saya sadari ketika saya memergoki anin memperhatikan tingkah polah Raka ketika tarik-ulur dengan saya. Keesokan harinya anin meniru strategi raka sama persis. Woalah!! musti makin ekstra hati-hati nih.
Dari 3 biji resume saya itu, langkah yang saya lakukan adalah
Menjadikan saya sebagai musuh utama
Jika 2 orang berseteru, cara mendamaikan yang paling cepat adalah menciptakan musuh bersama. Dan teknik ini agak manjur, peluangnya 60-40 sampai hari ini. Jika mereka berebut, saya akan bilang “Berhenti nak..”. Jika masih berebut, maka mainan itu akan berpindah ke tangan saya. Selanjutnya mereka mlongo memandang saya, detik berikutnya menangis bersamaan. Kemudian baikan deh. Kasus selesai. Suasana rumah kembali tenang.
Meminta bantuan
Saya mengandalkan CEO. Jika keadaan sudah diluar kendali. Saya memegang Anin dan CEO memegang Raka. Kami pisahkan beberapa saat. Trik ini cepat berhasil, tapi kurang mujarab dan menghabiskan energi.
Latihan Gantian Berbicara
Sehubungan dengan Anin belum lancar bicara, cara ini agak-agak tricky. Karena saya harus menerjemahkan anggukan dan gelengan pada proses investigasi. Caranya adalah ketika peperangan dimulai saya langsung pasang badan di tengah. Hal yang menjadi subjek perebutan saya pegang. Kemudian memeluk keduanya sampai mereka tenang. terakhir investigasi dimulai. Cara ini meskipun agak lama, biasanya membuahkan hasil kompromi diantara mereka dan efeknya mereka bermain bersama kembali dengan tenang. Jika suasana hati mendukung komprominya bertahan 1/2 hari. horee..!!
Menjadi objek lelucon
Ketika proses tarik ulur mulai terjadi, sebelum suasana memanas, saya menengahi mereka dengan menjadikan saya sebagai lelucon. Biasanya mereka menertawai saya dan lupa pada peperangan. Yah.. kadang mikir juga, job desc saya tambah jadi badut dadakan. Tapi tak apalah karena kemudian kami tertawa bersama.
Jadi para mak-mak yang mengalami nasib seperti saya, sabar ya buu.. mereka akan tetap bertengkar kok, nah lo!! seperti saya dengan ade cowok saya. FYI kami mulai mereda ketika SMA. sebelumnya wow.. bak kucing dan anjing.
Tetapi saya percaya apapun pertengkaran mereka, itu harus mereka jalani karena disana mereka belajar banyak hal. Seperti saya dan my beloved brother.
Trus tips-tips tadi buat apa? hasilnya sih murni untuk saya. Jika mereka belajar bernegoisasi paling tidak suasana rumah agak tenang, kemudian mengurangi tekanan darah yang mulai naik-naik ke puncak gunung. Jika trik-trik di atas gagal, jurus terakhir adalah menjauhkan diri dari arena pertengkaran, tahan malu sama tetangga sampai mereka sadar mak-nya raib kemudian ditutup dengan berdoa semoga mereka menjadi saudara yang rukun.








xixixixiixiiixxiixiii, jadi mikir lagi kl mo nambah anak
)
halah… nggak usah mikir, usaha aja dulu bikin
). Kalau jadi baru mikir latihan jadi wasit ha..ha.. anak 2= wasit tinju, anak 5=wasit futsal. anak 11= GUBRAK!!.
Rumah jadi rame..sumpah. nggak perlu tv atau tape. irit kekekkekke..