Suatu siang di tengah-tengah kesibukan saya, tiba-tiba ada pesan singkat di handphone. Mengabarkan tentang kegalauan seorang sahabat yang mendapat pesan singkat yang tidak mengenakkan. Miris hati saya, bukan karena saya tahu duduk persoalannya tapi lebih kepada pemilihan kalimat pesan teror tersebut. Saya tidak berminat untuk tahu kebenaran berita tersebut. Bukan area kekuasaan saya, di samping itu seperti mengail di air keruh. Belum tentu dapat ikan tapi membuat suasana tambah runyam.

Seberapa sering kita menjadi bahan gosip tidak mengenakkan, lebih menyedihkan hati berpengaruh terhadap orang-orang terdekat. Reaksi pertama yang muncul adalah sakit hati. Ya jelas lah, apalagi jika kita tidak pernah melakukan hal tersebut. Meskipun seandainya berita itu benar maka reaksi pertama adalah “gue nggak gitu-gitu amat kok!!”. Reaksi selanjutnya adalah apa kata orang-orang ya?. Kemudian kita akan semakin panas, semakin sakit hati dan semakin emosi, ketika katup kesabaran menipis maka kita datangi si penyebar berita tersebut, hajar!!

Tetapi tunggu, ambil nafas panjang,inhale…exhale. Anda perlu melakukan pembalasan dengan secantik dan secerdas mungkin. Karena ini akan membedakan kita dengan si penyebar berita. Ini dia caranya.

Lupakan
Cara paling tidak menguras energi adalah melupakannya. buang sampah-sampah berita itu ke laut. Keluarkan dari otak dan hati. Lupakan bahwa orang tersebut telah membicarakan kita. Jika berita itu benar tetapkan di hati, “Saya ingin memperbaiki diri!”, mungkin ini adalah saatnya berbenah, tepat ketika kita menjadi objek gosip. Jika berita itu tidak benar teruskan langkah, tetapkan kesiapa kita perlu melakukan klarifikasi dan ini tidak semua orang. Semakin banyak orang yang kita klarifikasi semakin absurd kebenaran berita, karena kita tidak bisa mengkontrol persepsi orang. Jika urusan sudah selesai, segera tutup buku. Lihat ke depan dan terus bergerak.

Maafkan
Ini yang paling berat, ketika kita terluka tantangan terbesar adalah memaafkan. Lebih berat lagi jika efek kerusakaan akibat berita itu dahsyat. Dihati kecil seringkali kita berharap dia merasakan apa yang kita rasakan. Tetapi meskipun berat, berdasarkan pengalaman ini adalah obat paling manjur dan tidak menimbulkan efek samping berantai so.. big effort big result.

Tetapi jika melupakan dan memaafkan bukan pilihan, mungkin ini bisa jadi solusi.

kicking butt

Gunakan data
Ketika saya mengikuti training ISO, mentor seringkali menekankan “evidence”, bukti dan data yang terekam dan tertulis. Jika berita itu tidak benar, kumpulkan data seakurat dan seobjektif mungkin. Kumpulkan sebanyak-banyaknya, baik dari orang-orang yang pro dan kontra terhadap kita, sampai bisa memutar balik berita tersebut, jika dirasa sudah cukup tinggal melemparkan kepada khalayak, tidak perlu mengeluarkan statemen. Data akan membuktikan bahwa berita itu tidak benar. Proses ini memerlukan waktu tapi jika kita telaten efeknya akan instan.

Kenali musuhmu
Dengan mengenali karakter penyebar berita, apa pemicu sampai berita tersebut muncul. Kita bisa menemukan strategi paling tepat untuk melakukan serangan balik yang telak. Bukan dengan menyebarkan berita buruk tentang dia kembali, tetapi strategi untuk membersihkan diri kita. Kenali perilaku si penyebar berita, seberapa sering dia melakukannya. Apakah berita yang di sebar mayoritas benar atau mayoritas bohong. Jika mayoritas bohong, kita tidak perlu meneruskan strategi balasan karena khalayak sudah memiliki kesimpulan sendiri terhadap sumber berita.

Berbenah Diri
Saatnya berbenah diri dan memperlihatkan bahwa kita tidak seperti yang diberitakan.  Jangan menarik diri dari pergaulan, tetapi ini adalah saatnya untuk melakukan komunikasi efektif dengan lingkungan. Waktu yang tepat untuk kita melakukan promosi yang baik. Bukankah kabar buruk itu adalah salah satu sarana promosi. Jika kita di gosipkan berselingkuh, mulailah gandeng pasangan kemanapun, membatasi pergaulan dengan lawan jenis, pulang lebih tepat waktu dan lebih terlibat dalam urusan rumah tangga ditutup dengan banyak meluangkan waktu berdua.

Jika di kabarkan korupsi, saatnya diam-diam meletakkan slip gaji di meja kerja atau mulai menyewa akuntan publik untuk melakukan audit pada harta kekayaan. Mengerem segala macam nafsu belanja, bergaya hidup biasa-biasa saja.

Fokus pada masalah
Seringkali berita buruk hanya berkisar pada satu subjek, karena kita terlalu emosi menjadikannya multi subjek. Pembalasannyapun jadi tidak terfokus. Ini akan menguras energi dan menimbulkan efek berantai lebih parah. Fokuslah pada subjek berita, selesaikan dan hanya kepada penyebar berita. Jangan merembet kepada orang-orang terdekatnya. Mereka bukan pelaku. Dan tentunya mereka tidak ikut dalam peperangan ini.

Meminta Maaf
Jika gosip itu benar, Kumpulkan segala keberanian dan kekuatan. Minta maaf dan akuilah, Jangan berharap objek kesalahaan kita akan melepaskan dengan mudah. Tetapi meminta maaf sudah menyelesaikan separuh permasalahan, sisanya harus di selesaikan dengan kerja keras, komitmen dan kebesaran hati. Proses inilah yang akan membuat kita berbeda dengan kita yang lalu. Saya yakin, kita yang baru adalah yang baik, sudah di upgrade!!

Saya percaya bahwa tidak ada sesuatupun terjadi tanpa alasan. Tetapi saya juga percaya bahwa menyelesaikannya adalah hak prerogatif kita, jadi pilihan memotong rantai balas dendam atau menyambungnya benar-benar hak kita. Jadi please..please choose wisely

Berlabel:
 
Tentang Penulis

Farida Purnaminingrum

Seorang ibu dengan 2 krucil yang super heboh, nyambi sebagai web developer, sambil curi-curi waktu menjahit.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>