Saya ingat betul, selepas melahirkan Raka, Bu dina (teman sekantor) saya berujar
"siap-siap ke rumah sakit tiap bulan rid". saya tidak begitu mudheng dengan
selorohnya saat itu. Tetapi setelah saya memiliki 2 buntut, seloroh itu ada
benarnya juga. Memiliki anak balita musti siap mental dengan yang namanya sakit.
Sakit yang saya maksud adalah batuk, pilek, demam tidak ketinggalan rewel
setelah imunisasi. Sependek yang saya pelajari secara alami balita akan sering
sakit, itu adalah mekanisme membangun daya imun. Teorinya saya harus tetap
tenang, fokus dan sabar ketika para krucil sakit. Prakteknya… **muka bersemu
merah**, ini dia yang terjadi kepada saya ketika para krucils sakit.

Buku Panduan
Ibu modern khan musti punya buku panduan tho?!!.. nggak kalah deh sama kalau
beli mesin cuci baru. Saya tidak mau ketinggalan. Buku nangkring manis di rak
buku. Saya sampul plastik. Begitu krucil sakit. Jeder!!! buku saya baca
bolak-balik sampai lecek. saya baca tapi nggak ngerti-ngerti, kok sepertinya
terbolak-balik gejalanya. Saya check setiap
15 menit. Jangan-jangan saya salah baca. Apalagi kalau
sudah mendengar kata-kata "hati-hati ntar thypus atau DB". hati saya
kebat-kebit. Butuh keteguhan hati dan ketelitian untuk membaca segala macam
tanda-tanda. Kalau tidak ingat bahwa sebagian besar sakit pada anak adalah
wajar. Begitu panas 5 menit saya langsung kabur ke dokter anak. Tapi memiliki
buku panduan benar-benar pertolongan pertama terhadap kepanikan saya. Pesan
sponsor baca buku ini disaat anak sehat dan anda rileks, tambahan lain kadar
kepanikan akan semakin menurun berbanding lurus dengan jumlah anak :) ).

Ketahanan Fisik
Ketika krucil sakit, wuuah mereka menjadikan saya mbok jamu 24 jam. Gendongan
saya adalah tempat ternyaman mereka (sedikit ge er). tidak lupa paket goyangan dan nyanyian
suara fals saya. terlihat indah khan?.. seperti iklan obat penurun panas di tv. Sang ibu
tersenyum menggendong anak yang sedang sakit :) ). Tetapi apabila mereka minta
gendong tanpa jeda semalaman.. Percayalah ketahanan fisik itu perlu. termasuk
strategi tidur sambil menggendong dan bergoyang.  Jadi ketika anak-anak
saya demam. Saya tahu bahwa begadang dan menggedong adalah menu wajib. trus
kemana para suami??.. he he tugas CEO paling menyemangati dengan memberi obat
yang notabene biasanya 6 jam sekali, anak-anak tidak begitu doyan di gendong
ayahnya..  :D

Anin Sakit

Menghemat cuti
Sebagai ibu bekerja, tidak masuk karena anak sakit adalah wajar, masalahnya
seringkali tidak semua orang mahfum dengan kondisi ini. Coba anda bergosip
dengan ibu-ibu yang memiliki anak balita, seberapa sering balita sakit. jika
diambil rata-rata bisa jadi sebulan sekali. Nah.. karena hal inilah saya harus
pandai-pandai mengatur cuti yang hanya 12 hari setahun itu. Jaga-jaga jika
tidak masuk mendadak karena krucil demam, tinggal sms boss bilang "Pak. saya
potong cuti, anak sakit". Boss nggak senewen, saya juga nggak mati gaya..lah wong
saya mengambil hak saya.

Berdebat
Setiap anak sakit. kami selalu berdebat meskipun kadarnya dari low-middle-sampai
high tension. Biasanya berhubungan dengan kapan memberi obat, kapan harus ke
dokter dan berjaga :D . Bagian indahnya CEO lebih rasional daripada saya. Kapan
perlu memberi obat atau tidak biasanya tidak melenceng dari buku panduan. Kalau
saya pengennya cepet-cepet selesai sakitnya. Lha wong saya yang nggendong..sudah
remuk redam bahu saya. Memiliki partner yang bisa berpikir tenang adalah suatu
anugrah. Biasanya CEO akan meredakan kepanikan saya dengan pergi ke dokter untuk
mendapat diagnosis yang akurat. Soal menebus resep urusan belakang. Kalau saya
bilang kan sayang sudah bayar mahal ke dokter tapi nggak nebus obat. Beliau
selalu menjawab "Sekolah dokter khan mahal, ya wajar bayar diagnosis mahal.
kalau obat itu cuma efek sampingnya".

Tenaga Kesehatan
Penting sekali untuk memiliki tenaga kesehatan langganan. Ini bisa dokter umum,
dokter anak, bidan bahkan mantri. Saya sendiri tidak terlalu fanatik dengan
dokter anak. Tenaga kesehatan ideal saya adalah yang telaten, tidak membuat
ngeri para krucil , komunikatif dan sabar. Pastinya susah ditemukan ya ^_^. Saya
perlu waktu yang cukup lama untuk menemukan para penolong ini. Berpindah dari
satu dokter anak ke dokter lain. Sampai akhirnya kami menemukan yang pas. Bukan
yang setiap memberi obat langsung sembuh lo ya..  Ingat khan orang tua kita
sering bercerita "Dulu kamu cocoknya ke dr. x kalau yang lain nggak
sembuh-sembuh". Kalau sekarang yang jarang ngasih obat tapi mudah mengobral
informasi (baca : mengedukasi pasien).

Mencari teman sepenanggungan
Buatlah grup dengan teman-teman yang memiliki balita. Keuntungannya anda bisa
belajar dari gejala sakit anak teman anda he..he.. Sehingga bisa lebih preventif
dan sedikit tenang. Gejala lainnya curhat lebih plong.. wong mereka juga
mengalami kepanikan yang sama.

Percayai intuisi
Para ibu dilahirkan dengan radar yang amat sangat sensitif. Saya bisa mengenali
tingkat keparahan sakit anak-anak saya. Kadar mereka menahan sakit berbeda 180
derajat. Semakin sering anda bersama anak yang sakit. Radar anda akan semakin
tajam. Sahabat saya andies pernah bercerita mengenai bayi kembarnya yang kena
DB. dia merasa makin panik ketika demam si kembar turun tidak tahu kenapa. Dan
ternyata intuisinya benar. Jadi ketika intuisi anda merasa ada yang salah..
segera ke rumah sakit. Pengalaman saya tidak terjadi di setiap sakit.

Semoga kehebohan saya tidak terjadi pada anda. Tapi jika anda seperti saya..
tarik nafas panjang.. berusaha tenang.. tambahkan bumbu sugesti bahwa makhluk
kecil itu bergantung penuh terhadap setiap keputusan kita. happy parenting..

Berlabel:
 
Tentang Penulis

Farida Purnaminingrum

Seorang ibu dengan 2 krucil yang super heboh, nyambi sebagai web developer, sambil curi-curi waktu menjahit.

Satu Balasan ke Ketika Anak Sakit

  1. pinkina mengatakan:

    hihihhi…walikan. nek juraganku maunya ke dokterrrr ajaaa :D nek aku lebih percaya panduan nang buku dan internet xixiixixi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>