Mempunyai anak lelaki usia toddler (2-4 tahun) sering kali membuat saya lelah luar biasa. Anak saya seperti tidak pernah kehabisan energi. Lompat sana-lompat sini. melempar ini melempar itu, tanya ini tanya itu dan yang paling ekstrem gebuk sana gebuk sini (stt..yang ini saya akan curhat di lain waktu). Sedangkan saya yang sudah 30+ ini sering kali ngos-ngos’an. Apalagi mengikuti acara lompat-lompat dan menjawab segala pertanyaannya yang ajaib. "Seperti kenapa bu guru gendut berarti mau punya ade. kok polisi tidur gendut nggak punya ade?".

Dilain waktu seringkali stock kesabaran saya tipiiiis sekali. Ibarat petasan sumbu saya pendek nian, sekali sulut tidak pakai jeda langsung "duuuar!!". Anak menangis, saya menangis dalam hati. Idealnya sebagai makhluk yang terlahir lebih dahulu, saya lebih mengerti atau paling tidak lebih sabar. Di saat-saat seperti itu saya amat sangat berharap kedua anak saya lahir lengkap dengan buku manual. Walaupun seandainya buku manual itu setebal 10,000 halaman pun akan saya lahap tuntas!!. tapi kembali ke dunia nyata, tidak ada buku manual *dooohhh jedot tembok*

Keadaan sumbu pendek ini saya renungkan tidak bisa dibiarkan. Saya lelah dan anak saya apalagi…Saya tidak tahu efek apalagi yang akan terjadi akibat sumbu pendek ini. Apakah synapses-synapses terputus. Apakah hatinya terluka oleh hardikan saya. Saya kok semakin miris membayangkannya. Tetapi peraturan tetap harus ditegakkan dan tata krama juga harus di ajarkan. Kalau pilihannya dengan hukuman hati kecil saya menolaknya. Hukuman hanya untuk kriminal, Anak usia 3 tahun dengan mata beningnya, ooh..jelas dia bukan kriminal.

Saya mencari, saya membaca, saya curhat. Apa saja saya lakukan tetapi sepertinya posisi saya tidak bergerak. Sampai pada satu titik saya tersadar dia unik. Apa yang saya baca, yang saya temukan dan saran dari teman-teman adalah referensi bukan panduan. Karena teori yang saya baca ketika diterapkan belum tentu menghasilkan hal yang sama. Karena anak saya manusia dengan gen campuran antara saya dan CEO. bukan mesin hasil pabrikan yang ketika saya "coding" dengan algoritma sama maka hasilnya akan sama.

Satu hal yang baru akhir-akhir ini saya sadari. Dia akan compatible dengan saya "no matter how", lha wong 1/2 kromosomnya bawaan dari saya. Karena dia ditakdirkan menjadi sarana pembelajaran saya. Dia guru cilik saya entah saya suka atau tidak, yang paling mengerikan adalah saya berkewajiban untuk terus belajar tidak ada istilah drop out. Raport hasil pembelajaran saya akan terlihat ketika dia tumbuh dan berkembang hingga dikemudian hari nanti dia menjadi manusia seperti apa, mungkin saat itu saya sudah tidak di dunia. Membayangkan ini saya menjadi ketakutan sekaligus excited.

Raka dengan hasil prakarya

Jika anda mengalami hal seperti saya..calm down ladys. you’re not alone..Ambil nafas panjang. Ini adalah hasil pencarian saya. Percayalah listnya akan berubah seiring saya menemukan "hal baru". Tetapi untuk saat ini saya berbagi, semoga berguna :

- How to Talk So Kids Will Listen and Listen So Kids Will Talk by Adele Faber & Elaine Mazlish

Buku ini sebenarnya enak di baca, ringan bahkan ada gambar. Tapi beraaat di prakteknya. Saya harus mengulang-ngulang membaca setiap bab sampai saya yakin hapal di luar kepala. Tetapi ketika saya bertemu dengan situasi seperti di buku. Otak saya langsung "blank". Buku ini "must have". Seringkali saya "mbrebes mili" (baca : menangis diam-diam) setiap mengulang bab per bab. Ada edisi bahasa indonesianya tetapi saya belum menemukannya di toko buku.

- Nanny 911
Sebenarnya saya agak kurang suka dengan bentuk buku ini. Terlalu teratur. Tetapi untuk referensi bolehlah.. Referensi untuk melakukan disiplin tanpa pukulan. Dan ternyata banyak juga keluarga yang memiliki anak "senakal" anak kita (betapa melegakan).

-The Wonder of Boys oleh Michael Gurian (diterjemahkan oleh serambi)
Buku ini menyadarkan saya bahwa anak lelaki dan perempuan berbeda. Di tambah tayangan di BBC knowledge mengenai lelaki, sejak dilahirkan mereka diciptakan untuk berkompetisi. Belum tamat saya baca tetapi membuat sumbu saya panjang sedikit.

- Your Toddler month by month oleh Dr. tyra byron
Buku ini memberi gambaran apa yang bisa saya harapkan dari anak umur 3 tahun. Pemahamannya, cara pandangnya. tumbuh kembangnya. Tidak perlu membaca lengkap 324 halaman (dijamin klenger). Cukup cari bab sesuai umurnya. biasanya disana saya tahu tahap apa yang dialamaninya

- Who am I as a Parent oleh Tisna Chandra
Saya membeli buku ini tanpa sengaja, karena obral biasa lapar mata. Tetapi kemudian ketika saya "error" buku ini seperti memberi kaca super besar dan buuening. saya seringkali tersenyum malu karena saya ada di salah satunya.

- The Smart Parenting Revolution oleh Dawna Markova, Ph.D. (Temukan dan Lesatkan Kelebihanmu, Anakku)
Sama seperti Who am i as parent. buku ini saya beli ketika obral. Ketika heboh-heboh finger print analysis. Saya ngotot super ngotot ke CEO untuk melakukan test untuk raka. Bahkan sangking ekstremnya saya sampai rela di potong uang hura-hura. Tetapi kemudian saya tersadar, Seandainya saya sudah memiliki hasil test jangan-jangan saya terpaku dengan hasil test itu. Bukan kah saya sebagai "mak" nya berkewajiban untuk mengeksplor anak saya sedalam-dalamnya. Buku inilah yang menyadarkan saya.

- Positive Disipline
Blog ini sering saya kunjungi. terutama setelah saya "menghukum" anak saya. setelah membacanya baru saya menyesal luar biasa.

- Positive Parenting Solutions
Saya subscribe newsletternya. setiap minggu saya di kirimi email. lumayan untuk refresh masalah parenting

- Siaran Dear Parents di deltafm jakarta oleh Ibu Elly Risman dari yayasan kita dan buah hati
Acara ini masuk "kudu" list. Saya dengarkan sambil beraktifitas benar-benar menyegarkan. Untuk anak, dan untuk pasangan. Seringkali di krl bersama CEO saya ngobrol mengenai yang saya dengar. Biasanya saya yang banyak ngoceh :D sedangkan CEO cuma manggut-manggut berusaha bersikap sopan mendengarkan saya he..he (thx ya honnn..)

Jika anda punya koneksi intenet unlimited atau blackberry bahkan koneksi internet di bayari kantor sering-seringlah browsing. saya amat sangat bersyukur meskipun sumbu saya belum begitu panjang. Paling tidak jagoan kecil saya memaksa saya belajar. Dan saya menjadi paham arti "orang tua adalah profesi seumur hidup"

Tentang Penulis

Farida Purnaminingrum

Seorang ibu dengan 2 krucil yang super heboh, nyambi sebagai web developer, sambil curi-curi waktu menjahit.

2 Responses to Mencoba mendisiplinkan anak usia 3+ tahun

  1. pinkina mengatakan:

    behhhh….mosok smpyn sumbu pendek seh ??? nek smpyn ae sumbu pendek, aku berarti super duper pendek dunk, hiksss….. tak kiro wes lulus sekolah wes gak belajar maneh, ternyata belajar iku sepanjang hayat huuhuuu. yuk belajar lg, demiii…

  2. Farida Purnaminingrum mengatakan:

    @pinkina : belajarrrr teruuuuss..demi masa depan bangsa..(jiaahh)
    hehe btw kita jenis petasan opo yo? bumbung opo banting qiqiiqqi..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>