Sejak masa pubertas sampai berusia 20 something berat badan saya dalam skala BMI (Body Mass Index) masuk dalam overweight. Sampai teman satu kost saya dulu bilang "Da, berat badan kamu tuh akan tetap seperti itu kalau hidup datar-datar saja". Dalam hati apa hubungannya berat badan dan gejolak hidup ya?.. dia pikir hidup saya semulus tol cikampek?… . Saat itu salah satu resolusi setiap tahun baru adalah punya berat badan normal dalam skala BMI he..he

Sampai saya melahirkan, ternyata Allah menjawab resolusi saya, berat badan saya masuk BMI normal dalam skala 21. Wuuah senengnya bukan main, sampai saya bela-belain pas foto (norak.com). Siapa tahu bisa dijadikan piagam, he..he. nanti kalau ada foto ktp, passpor, id card etc pakai foto versi ini, bahasa marketingnya lebih menjual.

Tetapi ketika usia Raka bergerak, begitu pula berat badan saya. Timbangan mulai kurang bersahabat. Entah kenapa saya kok jadi panik.. bukan terobsesi tapi saya mulai merasakan enaknya punya BMI normal. Jalan jarang ngos-ngosan. Ngejar kereta pagi mau sprint hayuuk aja.

Terinspirasi oleh dua sahabat cantik saya (shant dan dianeka) saya niatkan untuk mulai berolah raga. Minta ijin CEO untuk ikut klub senam. Ijin sudah dikantongi termasuk dukungan finansial, tapi lagi-lagi saya terbentur dengan waktu. Duhh kok rasanya nggak tega ya korupsi waktu buat raka barang 1-2 jam dan klub senam terlupa. Walhasil saya mulai slow down.

Sampai suatu hari OB (Office Boy) dikantor memberikan ide. Naik tangga aja mba.. khan lumayan tuh 9 lantai. Jangan yang di dalam gedung tapi tangga darurat yang di parkir khan nggak serem tuh. Kantor saya ada di lantai 10. Keesokan harinya saya niatkan naik tangga..fuiiihh ngos-ngosan habis, tersengal-sengal. Tapi sampai lantai 9 rasanya puass.. Walhasil saya usahakan naik tangga setiap pagi, setelah satu bulan naik tangga saya mulai tidak ngos-ngosan. fyi ternyata naik tangga 9 lantai di menara jamsostek hanya membutuhkan waktu 5 menit :D .

Suatu hari saya membaca sebuah artikel agar exercise maksimal, minimal dilakukan 15 menit dengan denyut nadi maksimal (itung-itungannya lupa). Lahh jadi 5 menit saya belum maksimal donk?!. Saya harus putar otak lagi nih. Lagi-Lagi OB yang baik hati memberikan ide. "Jalan dari kartika aja mba, khan lumayan tuh buat pemanasan". "Wah boleh juga tuh idenya" tukas saya.

Selasa, 14 April 09 pukul 06.30 saya sengaja turun di kartika dan berjalan dengan semangat. Tetapi diantara BIP dan Menara Global saya melihat ada orang tertelungkup di sebelah trotoar. Wah gelandangan tidur nih pikir saya. Keingin tahuan saya mengelitik, saya berhenti, berani nggak ya mbangunin. kalau di bangunin pakai tangan trus ternyata orang gila..wah nggak lucu pagi-pagi di kejar orang gila, tapi kalau pakai kaki kok nggak sopan. Tapi kok punggungnya nggak turun naik?. Saya amati orang-orang yang lewat cuek saja. Udah ach cuekin aja, jalan lagi.. beberapa meter ada polisi patroli dan satpam, saya bilang ke meraka "Pak di situ ada orang, tidur atau mati ya?". Pak Polisi menjawab "Iya bu, kita check".

Sesampai di kantor dengan hebohnya saya bercerita tentang orang tertelungkup tadi ke OB. Selang beberapa saat rekan sekantor saya datang dan bilang "Eh. Ada mayat tuh di BIP dan Global!". Duuer !! "Hah!!. jadi tadi mayat?". Bulu kuduk saya langsung meremang…"hihh!!, untung tadi nggak iseng.".

Dan teman sebelah meja saya menyelutuk "Baru olah raga jalan sekali aja langsung ketemu mayat, besok ketemu apa mba?".. Waduh pengennya bugar kok jadi spooky saya.

Berlabel:
 
Tentang Penulis

Farida Purnaminingrum

Seorang ibu dengan 2 krucil yang super heboh, nyambi sebagai web developer, sambil curi-curi waktu menjahit.

Komentar ditutup.