Bahasan
Sudah sangat lama gigi geraham kanan bawahku mati. Sudah lama pula dokter gigi menyarankan untuk mencabutnya, karena tidak mungkin dilakukan penambalan. Tahun 2000, setelah merasa dana yang tersedia cukup, aku memutuskan untuk mencabutnya ke dokter gigi di RS Cikini.
Mengapa musti menunggu ada dana? Apakah biaya cabut gigi mahal? Hmmm, bagi orang lain yang normal, cabut gigi mungkin bukan sesuatu yang mahal, dilihat dari prosesnya yang cukup sederhana, “cabut-selesai”. Sementara bagi orang “abnormal” seperti aku, cabut gigi memerlukan proses yang lebih panjang. Aku memiliki kelainan, pembekuan darahku jauh lebih lambat dibandingkan orang normal. Menurut pengalaman cabut gigi terakhir, dengan menggunakan jasa dokter gigi praktek, proses cabut gigi terasa lebih lama karena darah yang mengalir terus menerus setelah gigi dicabut. Sampai akhirnya dokter memutuskan untuk menjahit gusi tempat gigi dicabut.
Beberapa hari berikutnya, darah mengalir dari gusi yang dijahit, entah karena ada jahitan yang lepas atau bagaimana. Aku tidak segera memeriksakannya ke dokter, sehingga darah kentalpun menggumpal di tempat itu melebihi besarnya gigi yang lain, yang aku rasakan kerasnya hampir sama dengan gusi. Setelah membawanya kembali ke dokter, dokterpun berpikir, manggut-manggut — aku berharap beliau mengerti masalahnya –, dan berikutnya melakukan tindakan: membersihkan darah yang mengental, menjahit ulang gusi, dan memberikan suntikan ke pantat. Setelah menjalani perawatan ulang ini, alhamdulillah tidak terjadi pendarahan lagi, sampai akhirnya sembuh.
Berbekal pengalaman ini dan yang lain, aku bermaksud untuk menceritakannya kepada dokter gigi yang akan mencabut gigiku. Untuk mengantisipasi prosesnya yang panjang, sangat masuk akal rasanya jika disediakan dana yang cukup.
Bertemu Dokter Gigi
Demikianlah, setelah tiba waktunya, aku menceritakan kelainanku ini kepada dokter gigi. Dokterpun tidak berani langsung mengambil tindakan, dan menyarankan untuk konsultasi ke bagian hematologi terlebih dahulu, untuk mendapatkan kepastian medis. Setelah mendapatkan surat rujukan, akhirnya aku langsung ke bagian hematologi.
Hematologi
Klinik hematologi di RS Cikini memang terkenal dengan pasiennya yang selalu penuh. Setelah menunggu mendapat giliran, akhirnya datanglah kesempatan itu. Setelah menyerahkan surat rujukan kepada dokter Karmel P. Tambunan dan bercerita ulang, beliaupun mengisi formulir untuk pemeriksaan laboratorium. Beliau menyerahkan formulir tersebut untuk melakukan tes darah di laboratorium dan menyuruh datang lagi beberapa hari kemudian, karena hasil laboratorium memang tidak bisa keluar pada hari itu juga.
Kunjungan berikutnya, hasil laboratorium sudah keluar. Dokter Karmel memeriksanya namun masih belum memberikan keterangan mengenai diagnosanya. Untuk lebih memastikan diagnosa, beliau menyarankan untuk melakukan tes darah di laboratorium RSCM. Setelah mendapat surat rujukan, konsultasipun berakhir.
Beberapa hari berikutnya, berbekal surat rujukan dari dokter Karmel, aku datang ke bagian hematologi RSCM untuk melakukan tes darah. Surat rujukan memerintahkan untuk melakukan tes terhadap Faktor VIII, apabila negatif dilanjutkan dengan Faktor IX. Setelah menyerahkan surat rujukan dan menunggu, akhirnya namaku dipanggil melalui pengeras suara. Akupun masuk ke ruang pengambilan darah. Setelah darah diambil, aku diperintahkan untuk menunggu hasilnya di luar.
Setelah menunggu, akhirnya namaku dipanggil lagi. Di ruang pengambilan hasil laboratorium, petugas menerangkan bahwa tes tersebut negatif. Sesuai perintah surat rujukan, mereka akan melakukan tes kedua. Merekapun menyuruhku untuk ke ruang pengambilan darah untuk pengambilan darah lagi.
“Ambil darah lagi mbak? Tadi kan sudah diambil darahnya? Kenapa tidak menggunakan darah yang tadi?”, tanyaku.
“Darah yang tadi hanya untuk sekali tes yang tadi saja mas. Jadi untuk tes selanjutnya musti diambil lagi.”, kata petugas.
“Oh”, jawabku tanpa ekspresi.
Aku kembali masuk ke ruang pengambilan darah. Petugas mulai mempersiapkan segala sesuatunya, dan mengambil darahku. Seperti sebelumnya, aku diperintahkan menunggu di luar.
Namaku kembali dipanggil melalui pengeras suara. Ketika aku masuk, petugas menyerahkan hasil laboratorium. Setelah semuanya selesai, aku pulang membawa hasil laboratorium untuk dibawa ke dokter Karmel pada kunjungan berikutnya.
Hasil laboratorium telah aku serahkan kepada dokter Karmel, dan beliau mulai membacanya. Beberapa saat kemudian dokter berkata, “Kamu hemofilia B”.
“Anak ibu sepertinya menderita hemofili”.
Itu adalah kalimat yang diucapkan seorang kepada ibuku. Mantri itu adalah orang yang melakukan khitan terhadapku, dan merawatku selama sebulan penuh ketika aku terbaring dalam masa penyembuhan. Saat itulah, tahun 1993, pertama kali aku mendengar istilah “hemofili”. Menurut pengertianku saat itu, hemofili adalah penyakit dimana penderita akan mengalami kesulitan pembekuan darah apabila terjadi luka, dan penderita mudah mengalami pembengkakan apabila terjadi benturan. Kesimpulan itu aku dapat berdasarkan gejala-gejala yang ada pada diriku.
“Apa itu, dok?”, tanyaku kemudian.
Dokterpun memberikan penjelasan seputar hemofilia B. Yaitu, kelainan pada seseorang karena kekurangan faktor pembekuan darah yang ada pada Faktor IX.
Tindakan untuk Operasi Cabut Gigi
Dokter menambahkan, bahwa untuk cabut gigi perlu dilakukan tindakan sebelum dan sesudah operasi. Tindakan tersebut dilakukan dengan transfusi plasma — disebut FFP (Fresh Frozen Plasma) — untuk memastikan bahwa faktor pembekuan darah yang diperlukan (Faktor IX) dalam kondisi cukup.
Lalu, bagaimana dengan proses operasi cabut giginya sendiri? Setelah mendapat vonis hemofilia B, operasi ini akhirnya tidak jadi dilaksanakan. Penyebabnya bukan karena vonis itu, melainkan lebih karena dana yang sudah disiapkan sebelumnya habis terpakai untuk biaya pemeriksaan hematologi.







ihhhh ngeri yaa sakit gigi itu
Kisah diatas sangat bermanfaat utk pembaca yg mempunyai gangguan dlm hal perdarahan. Jadi agar dpt ditarik hikmahnya mudah2-an Sdr Heru T.I tidak
keberatan utk melengkapi kisahnya dgn menjawab
pertanyaan2 yang ada dibenak saya yaitu ; 1. sebutkan dari jenis test LAB apa2 saja, Anda mendptkan bhw Pembekuan Darah Anda lbh lambat dari normal ? 2. Waktu Anda diTes diLab-Cikini, apa2 saja jenis2/item2 yg ditesnya ?Dari sudut ilmiah, saya harapkan dpt diberitahukan brp hasil angka2 testnya berikut angka standard normalnya ; tetapi bila Anda keberatan, mohon angka2nya dpt di e-mail saja kepada saya y.i
mstrzozo@yahoo.co.id .Tks, atas bantuannya.