|
Keluarga
Seputar keluarga
Caraka Aditya Putra Heru (C.A.P Heru)
Ditulis Farida Purnaminingrum
Kamis, 24 April 2008 08:47 WIB Semua kenalan saya bertanya “apa kabar si kecil?”, “Bagaimana cerita si jumbo?”. Saya selalu menjawab baik. Ok..ok saya bukan ibu yang bisa menceritakan anak saya bisa apa saja. karena terus terang agak susah mendeskripsikannya. terutama aset saya hanya sekotak kecil tabungan kata-kata. Akhirnya, karena salah seorang teman ingin tahu bagaimana cerita si jumbo. dan beliau tinggal nun jauh di jogja. saya dengan senang hati membongkar tabungan kata saya. Caraka Aditya Putra Heru. Lahir 17 November 2008. Panjang 52 cm. berat 4.3 kg via sectio caesar. Pemilihan nama ini hak prerogatif suami saya. saya hanya terima “approve” atau “reject”. Artinya utusan/orang yang bisa dipercaya (Caraka) Pertama (Aditya) Putra Heru (Anaknya Heru). Inisialnya C.A.P Heru. Si ayah memang agak narsis. Sejak di nyatakan hamil oleh dokter medio Februari 2007 terus terang hidup saya masih berjalan seperti biasa. Tidak ada lompatan-lompatan yang berarti. Tidak ada morning sickness, pantangan apalagi ngidam. Gimana mau ngidam, bulan pertama saja suami saya bilang “ngidam itu paradigma”, langsung ilfil saya. Percuma minta makanan aneh bin ajaib ke dia. Paling juga di kasih kata-kata paradigma lagi. Tetapi.. ajaib saya memang tidak merasa sangat menginginkan sesuatu yang aneh mis. rujak di pagi buta atau nasi uduk di tengah malam. Kejadian yang agak menyeramkan adalah ketika jatuh pingsan di toko keramik. Walhasil kami harus membayar 1 wastafel dan 1 toilet jongkok karena pecah ketiban saya. Ketika saya siuman, dengan tampang cemas suami bertanya kok mau pingsan nggak bilang-bilang…Lah seumur hidup baru sekali ini saya merasa pingsan, gimana mau bilang? (uurghhhh!!) Caraka di prediksi lahir akhir oktober atau awal november. Sedianya saya akan cuti mendekati hari kelahiran. Tapi ketika saya sudah mulai tidak mampu mengejar metromini saya putuskan cuti hamil. kegiatan selama menunggu kelahiran “leha-leha” dan menamatkan vcd korea :D. Sampai tanggal 8 november belum ada kontraksi sama sekali. padahal saat itu kandungan saya berusia 40 minggu. Akhirnya dokter (Dr. Alfiben - RS. Puri Cinere) menyarankan untuk menunggu sampai dengan tanggal 15 November 2007. Padahal Bala Bantuan sudah standby di rumah sejak tanggal 1. Akhirnya Ibu dan Budhe memutuskan kembali ke Malang. Kelamaan kata beliau berdua. Dan saya ditemani dengan “mbah buyut”. Tanggal 15 November kontrol ke dokter. Masih belum ada kontraksi, ketuban masih ok.. denyut nadi ok. Tapi… berat bayi di prediksi di atas 4 kg. Wah… gendut bener. Dr. Alfiben menyarankan caesar, “Saya bisa melakukan induksi tapi saya hanya ragu dengan besar bayi. Kepala mungkin cukup tapi bahu saya sangsi, jadi caesar langsung saja. Dari pada sudah induksi trus akhir-akhirnya caesar juga” Kata beliau. Saya berpandangan dengan suami, antara bingung dan saling menguatkan. Kira-kira berani normal nggak ya??. Akhirnya kami putuskan caesar. Dan tanggal 16 November saya masuk RS. Tanggal 17 November pagi 07.30 saya masuk ruang operasi. 10 menit kemudian Caraka sudah lahir. Kalau ditanya gimana rasanya di operasi.. wuiiih dingin :D. Saya tidak mau mendeskripsikan rasa sakit. Karena terus terang saat itu yang saya rasakan hanya dingin dan gatal-gatal, ini mungkin akibat morphin di obat bius lokal atau karena ruang operasi yang bersuhu seperti kulkas itu. 4 Hari saya di Rumah sakit. Pulang dan mulailah hiruk pikuk menyambut anggota baru keluarga. Saya sempat kena Baby blues 2 minggu. Kerjaannya berurai air mata dan memarahi suami.. melow abiss kalah deh sinetron. Syukurlah sahabat-sahabat saya tiada henti menelepon untuk sekedar bertukar kabar. Mbah buyut dengan tangan dingin nya selalu bisa menenangkan Raka ketika kolik. Dan suami dengan sabarnya menjadi ember segala macam omelan-omelan saya. Akhirnya tidak terasa usianya sudah 5 bulan 1 minggu saat ini (24 April 2008) dan saya mulai menikmati, merindukan ocehan dan pelukannya. Memang it takes time to tango with your baby |
|